Bappebti: Indonesia Dapat Membentuk Referensi Harga Komoditi Dunia

Jakarta, 8 April 2015 bappebti.go.id – Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti)  Kementerian Perdagangan sedang menggarap rencana besar untuk menyusun strategi agar Indonesia dapat membentuk harga (price discovery) dan menjadi referensi harga komoditi dunia. Sebagai negara penghasil komoditi ekspor utama dunia, Bappebti meyakini langkah-langkah strategis ini dapat dilakukan melalui pemanfaatan bursa berjangka.

“Sebagai negara penghasil komoditi ekspor terbesar dunia seperti karet, kakao,  CPO, teh, kopi, emas, tembaga, timah, nikel, dan batu bara, seharusnya kita dapat menciptakan harga komoditi yang menjadi referensi harga komoditi dunia,” tegas Kepala Bappebti Sutriono Edi di Kantor Kemendag Jakarta, hari ini Rabu (8/4).

Bappebti mengundang perwakilan dari berbagai pemangku kepentingan dan asosiasi komoditi di Indonesia dalam acara Pertemuan Teknis Asosiasi Komoditi di Gedung Kemendag Jakarta, hari ini (8/4). Melalui acara ini, diharapkan banyak masukan dan saran dari perwakilan asosiasi komoditi dalam rangka membentuk referensi harga komoditi dunia dan pengembangan bursa berjangka di Indonesia.

Sutriono dan praktisi bursa berjangka Hasan Zein Mahmud hadir sebagai pembicara kunci. Keduanya memaparkan makalah mengenai langkah strategis Bursa Indonesia untuk menjadi penentu harga dunia melalui perdagangan fisik komoditi.  Sementara, pembahahas utama adalah Staf Khusus Bidang Penguatan Perdagangan Nasional Ardiansyah Parman. Acara ini dimoderatori oleh Guru Besar Universitas Lampung Prof Dr Bustanul Arifin.

Sutriono menegaskan bahwa cita-cita Indonesia untuk menjadi negara yang mandiri dalam perdagangan komoditi ekspor utama dunia yang dapat  berperan membentuk dan menentukan harga (price discovery) komoditi dan menjadi rujukan harga komoditi dunia (price reference) dapat diwujudkan. “Kami meyakini cita-cita itu dapat kita raih meski selama ini masih mengalami kendala,” ujar Sutriono.

Sejumlah tantangan pun dipaparkan Sutriono Edi. Saat ini, Indonesia belum menjadi pasar yang menarik bagi investor untuk bertransaksi atas komoditi ekspor dunia karena belum memiliki liquidity provider yang potensial untuk meningkatkan likuiditas pasar komoditi. Selain itu, pelaku pasar fisik komoditi belum terkonsolidasi dengan baik. Tantangan lainnya adalah belum tersedianya perdagangan fisik komoditi yang terorganisir, wajar, teratur, transparan dan akuntabel.

bappebti“Untuk menyiasati permasalahan tersebut, diperlukan langkah strategis untuk menjadikan Indonesia sebagai tempat pembentukan harga dan referensi harga komoditi dunia melalui pemanfaatan bursa berjangka,” lanjut Sutriono.

Sutriono meminta seluruh pihak, para asosiasi komoditi mendukung upaya pemerintah ini terutama dalam mengembangkan bursa berjangka sebagai sarana pengelolaan risiko, pembentukan harga komoditi, dan sarana investasi.  “Kita memerlukan strategi yang difokuskan pada pembentukan pasar fisik yang terorganisir, konsolidasi pasar komoditi, penerapan standar mutu komoditi, akses pembiayaan, dan paket regulasi,” ujarnya.

Selanjutnya, Bappebti akan merumuskan pengaturan tentang tata niaga komoditi unggulan Indonesia.

Turut hadir dalam pertemuan teknis ini adalah perwakilan dari Ditjen Perdagangan Dalam Negeri, Ditjen Perdagangan Luar Negeri, Ditjen Kerja Sama Perdagangan Internasional, Ditjen Pengembangan Ekspor Nasional, Ditjen Standarisasi dan Perlindungan Konsumen, Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan Perdagangan Kemendag, Direksi Bursa Berjangka dan Direksi Lembaga Kliring Berjangka, serta perwakilan dari beberapa asosiasi, di antaranya Asosiasi Perdagangan Berjangka Komoditi (ASPEBTINDO), Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Gabungan Pengusaha Karet Indonesia (GAPKINDO), Asosiasi Kakao Indonesia (ASKINDO), Asosiasi Industri Kakao Indonesia (AIKI), Gabungan Eksportir Kopi Indonesia (GAEKI), Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI), Asosiasi Pedagang Teh Indonesia (ASPEGTINDO), Asosiasi Eksportir Timah Indonesia (AETI), Asosiasi Rumput Laut Indonesia (ARLI), Asosiasi Pengusaha Batu Bara Indonesia (APBI), dan Asosiasi Eksportir Pala Indonesia (AEPA)

–selesai–

admin Penulis